Kabar Kerabat

Menciptakan satu teman jauh lebih sukar dibanding menciptakan musuh. Mau coba? Silahkan maki-maki saja orang-orang yang lewat. Dengan sekejab, mereka akan mengumpat balik. Atau minimal menyeringai sinis. Tapi kalo makian terasa terlalu kasar, bisa-bisa bogem mentah kembali. Jadilah mereka musuh baru anda.

Itu tadi cukilan cerita yang kadang ayah dendangkan pada anak-anaknya ketika kami kecil-kecil dulu, betapa pentingnya teman dan jauhi permusuhan. Kini di saat usianya kian beranjak senja ayahku selalu berupaya untuk menjaga pertemanan, persaudaraan atau bisa disebut menjaga tali silaturahmi.

Dibuatnya yang saudara jadi tambah saudara, yang teman atau tetangga jadi seperti sudara. Kuncinya ramah, sopan dan menghormati. Plus berkunjung, tanya kabar dan jabat tangan erat ketika berjumpa.

Kata ayah konon kabarnya bersilaturahmi dapat memperpanjang umur. Sayangnya beliau kini telah senja jadi tidak semua kerabat dapat dikunjunginya. Terutama yang jauh-jauh. Sebagai gantinya beliau selalu bertelepon. Kadang tidak perlu lama bicara karena memang yang penting komunikasi terjaga.

********

”Ya Pakde Is…Bapak sekarang sudah …..

enak, bahagia…, senang…… ”

********

Sewaktu lalu ayah dapat kabar via telpon bahwa satu kerabat tua lelaki-nya sedang sakit keras, dan di rawat di rumah sakit. Kata ayah kerabat ini mengidap ‘penyakit tua’ yakni penyakit yg diidap oleh kebanyakan orang tua seusianya. Karena memang usia beliau telah mencapai di atas 80 tahun.

Kami sekeluarga akrab memanggilnya dengan nama mbah Syarif. Kami sangat akrab dengan-nya dan keluarga-nya. Mbah Syarif ini pensiunan TNI. Sejak jaman Belanda beliau aktif berjuang untuk kemerdekaan. Terakhir pangkatanya mayor. Kini beliau masuk legiun veteran. Kami sangat menghormati dan menghargainya. Kata ayah mbah Syarif ini orangnya sangat jujur dan besahaja.

“Mbah Syarif itu jujurnya kebablasen”
“Dulu pas jadi komandan pernah dikasih uang banyak sama orang yang dibantunya”
“Tapi mbah merasa ndak enak, mau ditolak gimana, mau dipake uangnya juga merasa gak punya hak…wong katanya ini bagian dari tugas-nya kenapa juga mesti dikasih uang…dan jumlahnya banyak sekali”
”Akhirnya uang itu disimpan embah di laci meja kantornya”
“Mbah sama sekali ndak mau make…”
“Gak pernah dihitung juga, taunya amplopnya tebel…”
”Sampe katanya mbah lupa!!”
“Lacinya ndak pernah dikunci, lama kemudian tau-tau pas dilihat kok kempes..alias tinggal amplop-nya saja”
“Mbah juga gak kalang kabut, mbah tau paling yang menggunakan uang itu anak-anak buahnya, mbah diem saja”
“Yo ben katanya, mereka butuh, kasian mereka, wong saya ndak perlu juga kok…”

Ayah selalu memuji, sampai sepertinya mbah Syarif ini orang yang ndak ada cacatnya alias sempurna.

********

Mendapat kabar yang tidak menyenangkan atas diri mbah Syarif ayah nampak gelisah. Ayah kemudian bergegas mengajak kami sekeluarga menjenguknya.

“Mbah Syarif sakit, sekarang sedang dirawat di rumah sakit Gatot Subroto”

“Bu…besok kita semua njenguk mbah ya”

“Tole..kamu bisa ikut sekalian kan?” Ayah bertanya mengajak aku.

“Ya kalo bisa bagus, tapi kalau kamu gak bisa izin kerja ya lain waktu menyusul..saja ya”

“Bu besok kita berangkat agak pagi, biar ndak terlalu macet dan masih adem”
“Nanti di jalan kita mampir dulu beli buah. Belikan jeruk dan anggur hijau saja. Mbah suka sekali itu”

“Tole jangan lupa kamu do’akan mbah mu ya, smoga beliau cepat sembuh”

Ibu mengiyakan. Sementara aku dengan berat hati tidak bisa menyertai. Ini dikarenakan aku harus bekerja, dan aku sudah mempunyai beberapa jadwal untuk bertemu beberapa rekan kerjaku yang sulit aku batalkan. Aku hanya titip do’a untuk kesembuhan Mbah.

Esoknya ayah dan ibu pagi-pagi bergegas berangkat menjenguk mendahului aku berangkat ke kantor.

Malamnya, setibanya aku pulang dari kantor, ayah dan ibu sudah kembali. Aku tanyakan kabar mbah Syarif kepadanya.

“Mbah Syarif kelihatan lebih kurus-an, sadar tapi ya begitulah namanya sakit keliatan lemes dan tidak bisa banyak diajak biacara… “

” Tadi sih kelihatan mbah senang pas lihat kalo yang jenguk Bapak dan Ibu, mbah bilang terimakasih sudah dijenguk. Sempat nanyain kamu juga Tole. “

” Tadi Om Yuyut yang nunguin si embah, dia bilang kalo kondisi embah sudah lumayan, membaik, kalo terus begini kemungkinan sih akhir pekan ini mbah sudah boleh pulang.. ”

Aku pun menimpali ”Senang ya bu ..pak…. mbah sudah jauh membaik dan smoga cepet pulang ke rumah, pasti mbah juga kangen tuh ya sama burung-burung ocehan-nya dan cucu-cucu-nya”.

********

Waktu kemudian bergulir, terasa cepat hampir satu bulan telah berlalu. Apa yang ada dibenak kami dengan kondisi si embah …ya embah membaik, kembali pulih dan mungkin sekarang ini sedang asik duduk di kursi rodanya di rumah sembari mendengarkan kicauan burung-burung-nya.

Ilustrasi: Kursi roda mbah Syarif

Ilustrasi: Kursi roda mbah Syarif

Saat itu aku ingat hari Sabtu sekitar jam 9 pagi, saat aku asik membaca koran di ruang tamu ..ayah tiba-tiba saja duduk di samping ku mendekat ke meja kecil yang berada si sudut ruang bersebelahan dengan rak Tivi dimana tepon rumah berada di atas-nya.

”Gimana kabar embah ya, bapak mau telpon nih..pagi-pagi begini biasanya mbah ada di beranda rumah…paling lagi dengerin kicauan burung-burung-nya sembari lihat cucu-cucu-nya si Anggi dan Nita lari-larian…senangnya.. ”

Sembari duduk dan karena masih dalam jangkauannya ayah bergegas mengagkat gagang telpon. Sembari membuka buku cacatan no nomor telepon rumah embah….tombol-tombol angka pun yang ada di pesawat teleponpun dipencet-pencetnya…. tut..tut..tut….

”Haloooo Assalamu alaikum…, apa benar ini rumah mbah Syarif ?”

”O ini mas Yuyut.., ini Pakde Is… Gimana kabar bapak mu Yut? ”

”Ya Pakde Is…Bapak sekarang sudah …..enak…, bahagia…, senang…… ”

”Wah…syukurlah, kalo gitu mau dong Pakde ngomong langsung dengan Bapak Mu… tolong panggilkan ya…”

”Pakde gimana mau dipanggilin…Bapak itu sudah tentram, damai, senang di……. Taman Makam Pahlawan Kalibata sana… ”

”Belum ada seminggu ini Bapak meninggal Pakde, tepatnya Rabu kemarin..”

“Sejak sepulangnya dari rumah sakit almarhum Bapak kelihatan lebih baik, lebih segar, senang…banyak ketawa dan senyum sama kita-kita..”

“Mungkin ini sudah rencana Allah,  kami hanya mengikhlaskan-nya Pakde….”

”Do’akan ya Pakde, smoga almarhum Bapak di alam sana damai, senang dan tentram…”
”Maaf banget Pakde..endak sempat langsung dikabari, Pakde dan Bude kan dah sepuh juga…Yuyut takut pakde gimana-gimana gitu kalo tau kabar-kabar dadakan seperti ini dan mesti jauh-jauh nantinya ke sini… ”

”Iya Yut, ndak papa…ndak papa…. Pakde maklum sekaligus… Pakde merasa kehilangan….”

” Yang tabah ya Yut….”
“Pakde dan keluarga turut mendo’akan almarhum Bapak Mu… semoga damai di sana…Bapak Mu orang yang baik banget Yut semasa hidupnya….”

“Pakde banyak mengambil pelajaran hidup darinya… ”

” Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun .. ”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s