Menagkap Flu Babi (H1N1) di Taiwan

flubabiMinggu ini adalah minggu pertama awal perkuliahan kampus-kampus di Taiwan, termasuk di NCU (National Central University) di mana saya studi.

Ada yang janggal ketika saya mulai beraktifitas di awal semester ini. Setiap pintu gedung-gedung perkuliahan, kantor, tempat olah raga, dan juga asrama ‘dijaga ketat’ oleh petugas. Mereka umumnya berjumlah 2 orang, duduk di belakang satu meja panjang dilengkapi rompi, masker dan sepucuk alat layaknya senjata api laras pendek yang siap menyergap orang-orang yang hendak memasuki gedung.

***************

“Satu hal yang menarik bisa diperhatikan dari orang Taiwan.  Di tempat-tempat umum sering sekali nampak orang menggunakan masker.  Selidik punya selidik,  pengguna masker ini bukan saja orang-orang yang takut tertular penyakit atau orang yang sensitif terhadap debu TAPI justru digunakan oleh orang yang SEDANG SAKIT (flu).  Penggunaan masker mencegah penularan flu dari dirinya pada orang lain”

***************

Ada apa gerangan pikir saya. Benar, mereka telah memasang pengumuman di ruang terbuka di sudut-sudut kampus, namun karena dalam tulisan Mandarin sayapun tak peduli..tak faham. Masih buta huruf dan bisu di sini.

Tidak terlalu pikir panjang karena mesti ikut jam kuliah di pagi itu sayapun bergegas  coba memasuki gedung menerobos melewati barikade petugas-petugas ini. Baru selangkah maju mendekati, petugas pun tersiaga berdiri memanggil.

”STOP…STOP..berhenti sebentar mas, kami periksa dulu !!”

Alat yang sepintas mirip senjata api yang tengah digengam petugas kini moncong-nya di dekatkan ke jidat saya. Hanya sebentar selesai, 1 – 2 detik saja, setelah itu setiker kecil berwarna kuning seukuran koin pun ditempelkan di bahu saya.

”Sudah selesai, silahkan ..masuk ruang”.

Karena ingin tahu saya pun bertanya ”Apa ini?”..

”Ini bagian dari kegiatan mencegah penularan Flu Babi dan alat ini adalah pengukur suhu, jika suhu badan anda dari hasil pengukuran tercatat lebih dari 38 derajat, anda tidak diperkenankan masuk gedung, anda akan langsung dikirim ke Pusat Kesehatan Kampus tuk diperiksa lebih lanjut”,  jelas petugas.

”Pastikan stiker ini tak lepas dari baju anda selama satu hari ini, kalau terlepas atau hilang anda akan diperiksa lagi saat memasuki gedung, seperti tadi. Setiap hari akan ada pemeriksaan, besok kita akan menggunakan warna lain stiker  dan seterusnya”, tambah petugas tersebut.

”Oya, suhu badan anda normal, hasil pengukuran tadi tercatat 36.5 derajat”.

Petugas-petugas ini selain memeriksa ‘pasien’ juga menyediakan masker gratis bagi yang memerlukannya.

Di pintu masuk perpustakaan tidak ada petugas yang menjaga. Namun tetap ada alat pengukur suhu di sana. Alat ini bekerja secara otomatis. Calon pengunjung cukup berdiri tegak menengadahkan dahi ke arah sensor suhu yang dipasang seperti shower di mana sebelahnya terpampang monitor. Bediri beberapa saaat di depannya,  derajat suhu tubuhpun akan ditampilkan di layar monitor tersebut. Kalau normal, lampu hijau akan menyala berbarengan suara alarm. Pertanda YA, monggo silakan masuk..

Selain hal di atas ditiap-tiap gedung juga dipasang alat otomatis untuk cuci tangan (disenfektan). Sebelum masuk gedung sangat dianjurkan untuk ‘menjulurkan’ tangan dan membasuhnya dengan cairan disinfektan menggunakan alat ini. Mak..nyosss…seger….

Berfikir sejenak lebih dalam dan masih menjadi tanya, seheboh  apakah penyebaran Flu Babi di Taiwan hingga gerakan menangkap Flu Babi nampak serius dilakukan.

Sepulang kuliah saya pun masih penasaran mencari jawaban, duduk manis di depan laptop tercinta, pertanyaan pun saya lontarkan ke paman Google.

Hasil pencarian menceritakan bahwa situasi terakhir hingga 15 Sept 2009 terkait flu babi di Taiwan 15 orang telah meninggal, 252 orang di rawat di rumah sakit dan 162 orang mengalami pemulihan. Central Epidemic Command Center (CECC) selaku fihak yg berkepentingan dalam pencegahan penyebaran flu babi mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan seluruh otoritas sekolah termasuk kampus untuk mematuhi standar management prosedur kesehatan sekolah/kampus dengan cara melakukan cek suhu badan setiap hari, penggunaan masker, disinfektansi dengan membasuh tangan dengan ethyl alcohol, serta selalu berkomnukasi dengan rumah sakit terdekat untuk hal-hal yang sifatnya urjen.

Semoga situasi ini cepat berlalu!! Bosen juga jidat kok dibuat mainan…

<!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Menagkap Flu Babi (H1N1) di Taiwan

Minggu ini adalah minggu pertama awal perkuliahan di seluruh kampus di Taiwan, termasuk di NCU (National Central University) di mana saya sedang studi.

Ada yang janggal ketika saya mulai beraktifitas di awal semester ini. Setiap pintu gedung-gedung perkuliahan, kantor, tempat olah raga, dan juga asrama ‘dijaga ketat’ oleh petugas. Mereka umumnya berjumlah 2 orang, mereka duduk dibelakang satu meja panjang di lengkapi rompi, masker dan sepucuk alat layaknya senjata api laras pendek yang siap menyergap orang-orang yang hendak memasuki gedung.

Ada apa gerangan pikir saya. Benar, mereka telah memasang pengumuman di meja mereka dan di ruang terbuka sudut-sudut kampus, namun sayang semuanya dalam tulisan Mandarin, tak faham saya. Masih buta huruf dan bisu di sini.

Tidak terlalu pikir panjang karena mesti ikut jam kuliah di pagi hari sayapun bergegas buru-buru coba memasuki gedung menerobos melewati barikade petugas-petugas ini. Baru selangkah maju mendekati, petugas ini tersiaga bergegas berdiri memanggil saya.

”STOP…STOP..berhenti sebentar, kami periksa dulu anda !!”

Alat yang sepintas mirip senjata api yang tergolek di meja kini tengah digengam petugas dan moncong-nya di arahkan ke jidat saya. Hanya sebentar, 1 – 2 detik saja, setelah itu setiker kecil berwarna seukuran koin pun ditempelkan di baju bagian dada saya.

”Sudah selesai, silahkan ..masuk ruang”.

Saya pun kemudian bertanya ”Apa ini?”..

”Ini bagian dari kegiatan mencegah penularan Flu Babi dan alat ini adalah pengukur suhu, jika suhu badan anda dari hasil pengukuran tercatat lebih dari 38 derajat, anda tidak diperkenankan masuk gedung, anda akan langsung dikirim ke Pusat Kesehatan Kampus tuk diperiksa lebih lanjut”,  jelas petugas.

”Pastikan stiker ini tak lepas dari baju anda untuk satu hari ini, kalau terlepas atau hilang anda akan diperiksa lagi jika pergi memasuki gedung, seperti tadi. Setiap hari akan ada pemeriksaan, besok kita akan menggunakan warna stiker lain dan seterusnya”, tambah petugas tersebut.

”Oya, suhu badan anda normal, hasil pengukuran tadi tercatat 36.5 derajat”.

Berfikir sejenak lebih dalam dan menjadi tanya, seheboh  apakah penyebaran Flu Babi di Taiwan hingga gerakan menangkap Flu Babi nampak serius dilakukan.

Sepulang kuliah saya pun masih penasaran mencari jawaban, duduk manis di depan laptop tercinta, pertanyaan pun saya lontarkan ke Paman Google.

Hasil pencarian menceritakan bahwa situasi terakhir hingga 15 Sept 2009 terkait flu babi di Taiwan 15 orang telah meninggal, 252 orang di rawat di rumah sakit dan 162 orang mengalami pemulihan. Central Epidemic Command Center (CECC) selaku fihak yg berkepentingan dalam pencegahan penyebaran flu babi mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan seluruh otoritas sekolah termasuk kampus untuk mematuhi standar management prosedur kesehatan sekolah/kampus dengan cara melakukan cek suhu badan setiap hari, penggunaan masker, disinfektansi dengan membasuh tangan dengan ethyl alcohol, serta selalu berkomnukasi dengan rumah sakit terdekat untuk hal-hal yang sifatnya urjen.

Semoga situasi ini cepat berlalu!! Jidat kok buat mainan…

One thought on “Menagkap Flu Babi (H1N1) di Taiwan

  1. di Tamkang Uni Taipei ada hal spt ini jd dosen dari Uni Taipei klo ngajar di Danshui pasti berstiker bajunya. Beliau jelaskan kpd kami maksud stiker itu apa krn di Danshui tidak ada tuh mas….thanks infonya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s